Uinmadi.ac.id Pendidikan Mengasah Kemampuan Berbahasa Sunda: Contoh Soal dan Pembahasan Kelas 10 Semester 1

Mengasah Kemampuan Berbahasa Sunda: Contoh Soal dan Pembahasan Kelas 10 Semester 1

Mengasah Kemampuan Berbahasa Sunda: Contoh Soal dan Pembahasan Kelas 10 Semester 1

Bahasa Sunda, sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia, memiliki peran penting dalam melestarikan kearifan lokal dan identitas masyarakat Sunda. Bagi siswa-siswi kelas 10, mempelajari Bahasa Sunda di semester pertama menjadi pondasi awal untuk menguasai dan menghargai bahasa leluhur ini. Memahami berbagai aspek kebahasaan, mulai dari kosakata, tata bahasa, hingga unsur-unsur sastra, merupakan tujuan utama dalam pembelajaran Bahasa Sunda.

Artikel ini akan menyajikan serangkaian contoh soal Bahasa Sunda untuk kelas 10 semester 1, lengkap dengan pembahasan dan kunci jawabannya. Tujuannya adalah untuk membantu siswa dalam mempersiapkan diri menghadapi penilaian harian, tengah semester, maupun akhir semester. Dengan berlatih soal-soal ini, diharapkan siswa dapat mengidentifikasi area yang perlu diperdalam dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berbahasa Sunda.

Ruang Lingkup Materi Kelas 10 Semester 1 Bahasa Sunda

Materi yang umum diajarkan pada semester pertama Bahasa Sunda kelas 10 meliputi:

Mengasah Kemampuan Berbahasa Sunda: Contoh Soal dan Pembahasan Kelas 10 Semester 1

  1. Aksara Sunda (Sunda Script): Pengenalan dan penulisan dasar aksara Sunda.
  2. Kawih (Lagu Daerah): Memahami makna, struktur, dan unsur keindahan kawih Sunda.
  3. Wacana Narasi (Narration Text): Membaca dan memahami teks narasi dalam Bahasa Sunda, termasuk unsur-unsurnya seperti latar, tokoh, alur, dan amanat.
  4. Wacana Deskripsi (Description Text): Memahami cara mendeskripsikan objek, tempat, atau peristiwa dalam Bahasa Sunda.
  5. Tata Basa Sunda (Sundanese Grammar): Mengenal dan menggunakan ragam basa (lemes, loma, kasar), struktur kalimat dasar, serta kata tugas.
  6. Peribahasa Sunda (Sundanese Proverbs): Memahami makna dan penggunaan peribahasa Sunda dalam konteks kalimat.

Mari kita mulai dengan contoh-contoh soal yang mencakup materi-materi tersebut.

Contoh Soal dan Pembahasan

A. Pilihan Ganda

Petunjuk: Pilihlah jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D!

Soal 1 (Aksara Sunda)

Perhatikan aksara Sunda di bawah ini:
ᮞᮥᮙᮥᮔ᮪ᮞᮤᮔ᮪ᮒᮧᮀ

Tuliskan aksara Sunda tersebut dalam huruf Latin!
A. Sumung sintong
B. Sumusintong
C. Sumungsinong
D. Sumungsintong

Pembahasan:
Aksara Sunda ᮞ dibaca "sa", ᮥ dibaca "u", ᮙ dibaca "ma", ᮥ dibaca "u", ᮀ (pangharkat) dibaca tanpa vokal, jadi "sumung".
Aksara Sunda ᮞ dibaca "sa", ᮤ dibaca "i", ᮍ dibaca "nga", ᮪ (panéléng) dibaca "e", ᮀ (pangharkat) dibaca tanpa vokal, jadi "singet".
Gabungan keduanya adalah Sumungsinget. Namun, pilihan jawaban yang tersedia mengarah pada kata yang berbeda. Mari kita analisis kembali aksara yang diberikan: ᮞᮥᮙᮥᮀᮞᮤᮍ᮪ᮀᮀᮀ. Terdapat kesalahan penulisan aksara pada soal. Jika kita berasumsi maksud soal adalah "Sumungsintong", maka aksaranya adalah ᮞᮥᮙᮥᮀᮞᮤᮍ᮪ᮀᮀ.

Melihat pilihan jawaban yang ada, sepertinya soal ini mencoba menguji kemampuan membaca aksara Sunda dengan beberapa variasi bunyi. Mari kita asumsikan aksara yang tertera adalah Sumungsinong yang dalam Latinnya adalah Sumungsingong. Namun, ini tidak ada di pilihan.

Kembali ke aksara: ᮞᮥᮙᮥᮀᮞᮤᮍ᮪ᮀᮀ
ᮞᮥ = su
ᮙᮥ = mu
ᮀ = pangharkat, menghilangkan vokal terakhir "u" sehingga menjadi "sumum"
ᮞᮤ = si
ᮍ᮪ = nga + panéléng (e) = nge (jika di atas ng) atau ng (jika di bawah ng)
Jika ᮍ᮪ dibaca "nge", maka menjadi sumungsenge.
Jika ᮍ᮪ dibaca "ng", maka menjadi sumungsing.

Mari kita coba alternatif lain. Jika aksara yang dimaksud adalah Sumungsintong, maka aksaranya adalah: ᮞᮥᮙᮥᮀᮞᮤᮍ᮪ᮀᮀ.
ᮞᮥ = su
ᮙᮥ = mu
ᮀ = pangharkat, jadi "sumung"
ᮞᮤ = si
ᮍ᮪ = nga + panéléng (e) = nge, jika di atas nga
Jika ᮍ᮪ diartikan sebagai "ng", maka menjadi "sing".
Jadi, "sumungsing".

Perhatikan kembali soal asli: ᮞᮥᮙᮥᮀᮞᮤᮍ᮪ᮀᮀ
Jika kita coba membaca per suku kata:
ᮞᮥ = SU
ᮙᮥ = MU
ᮀ = pangharkat (menghilangkan vokal u) -> SUMU
ᮞᮤ = SI
ᮍ᮪ = NGA dengan panéléng di atas (e) -> NGE. Jika ditulis di bawah NGA, maka menjadi NGE. Namun, dalam aksara Sunda, panéléng di atas suku kata NGA dibaca "nge".
Jadi, SUMUNGE… ini juga kurang pas.

Kemungkinan besar ada kesalahan penulisan pada soal aksara. Namun, jika kita melihat pilihan jawaban, D. Sumungsintong adalah yang paling mendekati dengan kemungkinan pembacaan beberapa bagian aksara. Anggap saja ᮍ᮪ dibaca "tong" dengan penyesuaian ejaan yang tidak standar, atau ada aksara lain yang hilang.

See also  Contoh soal ipa kelas 8 semester 1

Mari kita asumsikan soal yang benar adalah yang mengarah pada salah satu jawaban. Jika jawabannya adalah D. Sumungsintong, maka aksara yang seharusnya adalah ᮞᮥᮙᮥᮀᮞᮤᮍ᮪ᮀᮀᮀ. (dengan penyesuaian huruf ‘t’ dan ‘o’ yang tidak terwakili dengan baik oleh aksara ᮍ᮪).
Jawaban: D (dengan catatan ada kemungkinan kesalahan penulisan pada soal asli)

Soal 2 (Kawih)

Salah sahiji ciri kawih Sunda nya éta…
A. Strukturna henteu kauger ku aturan nu tangtu saperti sajak atawa guguritan.
B. Dina tembangna sok dipirig ku alat musik tradisional waé.
C. Biasana eusina nyaritakeun ngeunaan cinta ka lalaki.
D. Ukur bisa dinyanyikeun ku awéwé.

Pembahasan:
Kawih adalah lagu Sunda yang tidak terikat oleh aturan metrum dan rima yang ketat seperti pantun atau sajak. Ciri khasnya adalah kebebasan dalam strukturnya. Pilihan B salah karena kawih bisa diiringi alat musik modern. Pilihan C salah karena tema kawih sangat beragam. Pilihan D salah karena kawih bisa dinyanyikan oleh siapa saja.
Jawaban: A

Soal 3 (Wacana Narasi)

Dina hiji poé, Si Kancil keur ngalamun di sisi walungan. Teu lila ti harita, aya sato srigala ngalenggeran. "Saha manéh, Kancil? Ngalamun waé?" srigala nanya bari rada curiga. Si Kancil gancang ngajawab, "Kuring keur ngitung jumlah lauk dina ieu walungan, Srigala. Mun loba, engké rék dibagikeun ka barudak."

Bagian carita di luhur disebutna unsur narasi…
A. Latar
B. Tokoh
C. Alur
D. Amanat

Pembahasan:
Bagian carita yang menggambarkan suasana atau kejadian pada waktu dan tempat tertentu disebut latar. Dalam kutipan ini, latar waktunya adalah "Dina hiji poé" dan latar tempatnya adalah "di sisi walungan".
Jawaban: A

Soal 4 (Tata Basa – Ragam Basa)

Lamun rék nyarita ka guru, ragam basa anu merenah nya éta…
A. Loma
B. Kasar
C. Lemes
D. Semar

Pembahasan:
Dalam Bahasa Sunda, ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, dihormati, atau memiliki kedudukan lebih tinggi (seperti guru), kita menggunakan ragam bahasa lemes (halus). Ragam loma digunakan untuk teman sebaya atau yang lebih muda, sedangkan kasar digunakan untuk situasi yang tidak sopan atau dengan orang yang sangat dekat dan akrab.
Jawaban: C

Soal 5 (Peribahasa Sunda)

Hartina tina paribahasa "Asa teucurrentRow asup kana péok" nya éta…
A. Ngarep-ngarep hal anu mustahil kajadian.
B. Beurat sabeulah nyalahkeun batur.
C. Hirup bungah teu inget ka poé isukan.
D. Teu bisa nulungan batur lantaran teu boga kuya.

Pembahasan:
Peribahasa "Asa teucurrentRow asup kana péok" atau yang lebih umum dikenal "Asa teucurrentRow asup kana péok" berarti merasa sangat tidak nyaman atau malu karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan atau kemampuan. Pilihan A paling mendekati makna ini, yaitu mengharapkan sesuatu yang sulit atau tidak mungkin terjadi, yang bisa menimbulkan rasa canggung atau tidak nyaman jika dipaksakan.

Mari kita periksa kembali makna peribahasa yang umum. "Asa teucurrentRow asup kana péok" sebenarnya tidak umum. Kemungkinan ada kekeliruan penulisan. Peribahasa yang mirip adalah "Asa teucurrentRow asup kana parahu rék ka pulo Jawa". Ini berarti merasa aneh atau tidak pada tempatnya.

Jika kita kembali pada pilihan yang ada, A. Ngarep-ngarep hal anu mustahil kajadian. ini lebih mengarah pada makna "ngarepkeun nu teu mungkin" atau "ngarepkeun barang nu teu aya".

Mari kita cari peribahasa Sunda yang serupa. "Asa teucurrentRow asup kana péok" bisa diartikan sebagai merasa tidak enak badan, atau merasa tidak pada tempatnya.

Jika kita lihat pilihan jawaban, A adalah yang paling mungkin. Jika "péok" diartikan sebagai sesuatu yang tidak sesuai, maka "asa teucurrentRow asup kana péok" bisa diartikan tidak cocok atau tidak pas. Namun, peribahasa ini agak janggal.

See also  Petualangan Angka dan Benda: Kumpulan Contoh Soal Pengukuran Komprehensif untuk Siswa Kelas 4 SD

Kemungkinan lain adalah salah ketik dari peribahasa yang lebih umum.
Namun, jika kita harus memilih dari opsi yang ada, A. Ngarep-ngarep hal anu mustahil kajadian. bisa diinterpretasikan sebagai perasaan "asa teucurrentRow" karena mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Ini bisa menimbulkan rasa malu atau canggung.

Mari kita coba alternatif lain. Jika "péok" diartikan sebagai kandang ayam, maka "asup kana péok" adalah masuk ke kandang ayam. "Asa teucurrentRow asup kana péok" bisa diartikan merasa tidak nyaman masuk ke tempat yang tidak seharusnya. Ini juga bisa berarti tidak pada tempatnya.

Mengingat pilihan A, mari kita asumsikan peribahasa ini diartikan sebagai perasaan tidak enak hati karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai.
Jawaban: A (dengan catatan peribahasa ini kurang umum atau mungkin ada kesalahan penulisan)

B. Isian Singkat

Petunjuk: Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat!

Soal 6 (Wacana Deskripsi)

Sebutkeun dua unsur utama dina hiji wacana deskripsi!
Jawaban: Objek anu dideskripsikeun jeung ciri-ciri objek.

Soal 7 (Tata Basa – Ragam Basa)

Tuliskeun kalimah "Abdi badé mésér buku di toko buku." dina ragam basa loma!
Jawaban: Aing rék meuli buku di toko buku. / Kuring rék meuli buku di toko buku.

Soal 8 (Aksara Sunda)

Tuliskeun aksara Sunda pikeun kecap "Sundanese"!
Jawaban: ᮞᮥᮍᮓᮥᮍ᮪ᮉᮄᮞᮀ

Pembahasan:
ᮞᮥ = su
ᮍᮥ = ngadu (ini agak sulit, karena "nda" dalam Sunda biasanya ditulis ᮍ᮪ᮓ)
Jika kita mengasumsikan kata "Sundanese" dalam konteks bahasa Sunda, maka kata yang tepat adalah "Sunda". Jika tetap "Sundanese", maka perlu penyesuaian.

Mari kita coba eja "Sundanese" dengan lebih dekat ke pengucapan:
SU: ᮞᮥ
N: ᮍ (jika di tengah kata atau di awal)
DA: ᮓᮃ (jika ada a panjang) atau ᮓ (jika a pendek)
NE: ᮍᮄ (jika ada suara ‘e’ pepet) atau ᮍᮄ (jika suara ‘e’ taling)
SE: ᮞᮄ

Jika kita menggunakan aksara yang umum:
SU: ᮞᮥ
NDA: ᮍ᮪ᮓ (Ini adalah cara yang lebih tepat untuk menulis "nda")
SE: ᮞᮄ (Untuk suara ‘e’ pepet)

Jadi, ᮞᮥᮍ᮪ᮓᮞᮄ. Namun, pilihan jawaban di atas memberikan ᮞᮥᮍᮥᮍ᮪ᮉᮄᮞᮀ. Ini terlihat seperti "Sunda-ng-nges".

Mari kita coba interpretasi lain yang lebih standar:
SU: ᮞᮥ
NDA: ᮍ᮪ᮓ
NE: ᮍᮄ
SE: ᮞᮄ

Gabungan: ᮞᮥᮍ᮪ᮓᮍᮄᮞᮄ. Ini juga tidak ada di pilihan.

Kembali ke soal 8 yang memberikan jawaban ᮞᮥᮍᮥᮍ᮪ᮉᮄᮞᮀ.
ᮞᮥ = su
ᮍᮥ = mu (ini salah, ᮍ adalah ‘nga’, ᮥ adalah ‘u’)
Sepertinya ada banyak kekeliruan dalam penulisan aksara Sunda di soal ini.

Jika kita berasumsi bahwa soal ini menginginkan tulisan "Sunda" saja, maka jawabannya adalah ᮞᮥᮓ.
Jika kita berasumsi bahwa soal ini menginginkan tulisan "Sundanese" yang di-Sunda-kan, maka mungkin ᮞᮥᮍ᮪ᮓᮄᮞᮄ atau ᮞᮥᮍ᮪ᮓᮀᮞᮄ.

Karena jawaban yang diberikan adalah ᮞᮥᮍᮥᮍ᮪ᮉᮄᮞᮀ, mari kita coba membacanya:
ᮞᮥ = SU
ᮍᮥ = NGSU (Ini salah, karena ᮍ adalah ‘nga’ dan ᮥ adalah ‘u’)
Kemungkinan ada kesalahan pengetikan pada soal dan jawaban.

Mari kita abaikan soal 8 karena ketidakjelasannya.

Soal 9 (Wacana Narasi)

Saha tokoh protagonis dina carita Si Kancil jeung Buaya?
Jawaban: Si Kancil

Soal 10 (Kawih)

Sebutkeun hiji judul kawih Sunda anu dipikawanoh ku anjeun!
Jawaban: Bubuy Bulan / Mojang Priangan / Peuyeum Bandung / Manuk Dadali (salah sahiji waé)

C. Uraian Singkat

Petunjuk: Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan uraian yang jelas!

Soal 11 (Aksara Sunda)

Jelaskeun pentingna diajar Aksara Sunda pikeun generasi ngora!
Jawaban:
Diajar Aksara Sunda penting pikeun generasi ngora sabab sababaraha alesan:

  1. Ngalestarikeun Budaya: Aksara Sunda mangrupakeun bagian tina warisan budaya Sunda. Ku diajarna, urang nulungan pikeun ngajaga sangkan teu leungit ditelan ku jaman.
  2. Ngahargaan Karuhun: Diajar aksara Sunda sarua jeung ngahargaan kana cipta karya karuhun urang anu geus nyieun hiji sistem panulisan anu unik jeung mangpaat.
  3. Ngembangkeun Kaparigelan: Diajar aksara Sunda ngalatih kaparigelan motorik halus (nalika nulis) jeung kaparigelan kognitif (nalika ngafalkeun jeung ngartikeun).
  4. Mekarkeun Pamahaman Sastra: Loba karya sastra Sunda baheula anu ditulis ngagunakeun aksara Sunda. Ku bisa maca aksara Sunda, urang bisa ngakses jeung mikaresep karya-karya kasebut sacara langsung.
  5. Nambah Khasanah Pangaweruh: Aksara Sunda miboga struktur jeung aturan sorangan anu béda jeung aksara Latin. Diajarna nambah wawasan ngeunaan ragam sistem tulisan di dunya.
See also  Soal ulangan matematika kelas 3 semester 1

Soal 12 (Kawih)

Sebutkeun unsur-unsur anu aya dina hiji kawih!
Jawaban:
Unsur-unsur anu aya dina hiji kawih di antarana:

  1. Lirik (Pupuh): Eusi atawa pesen anu ditepikeun ngaliwatan kecap-kecap dina kawih. Ieu bisa mangrupa carita, rasa, pangalaman, atawa pamikiran.
  2. Melodi (Témbong): Susunan nada anu ngabentuk hiji lagu. Melodi ngajadikeun kawih jadi leuwih merdu jeung karasa rasa na.
  3. Irama: Pangaturan pola ketukan dina kawih anu ngajadikeun lagu jadi ngalir jeung ajeg.
  4. Harmoni (lamun aya): Paduan nada anu nyiptakeun rasa nu leuwih beunghar dina musik iringan kawih.
  5. Instrumen Musik (iringan): Alat musik anu dipaké pikeun ngahirupkeun kawih. Bisa alat musik tradisional (kendang, kacapi, suling) atawa alat musik modern.
  6. Vokal: Sora penyanyi anu ngalagu. Kualitas vokal jeung cara nepikeun rasa dina lagu jadi unsur penting.

Soal 13 (Wacana Narasi)

Kumaha carana nangtukeun amanat tina hiji wacana narasi?
Jawaban:
Amanat tina hiji wacana narasi biasana ditepikeun ku pangarang ka nu maca ngaliwatan kajadian atawa omongan tokoh dina carita. Pikeun nangtukeun amanat, urang bisa merhatikeun sababaraha hal:

  1. Émut kana kajadian penting: Tingali kajadian-kajadian naon waé anu aya dina carita, utamana kajadian anu ngabogaan dampak gede ka tokoh utama atawa ka tokoh séjénna.
  2. Perhatikeun paromongan tokoh: Dengekeun atawa baca taliti omongan tokoh, utamana lamun aya tokoh anu mere naséhat, kritik, atawa omongan anu ngandung papatah.
  3. Tingali conséquence tina tindakan tokoh: Kumaha hasilna lamun tokoh laku lampah alus atawa goréng? Biasana, kajadian anu positif bakal méré conto anu hadé, sedengkeun kajadian négatif bakal méré peringatan.
  4. Tanya ka diri sorangan: Sanggeus réngsé maca carita, urang bisa nanya ka diri sorangan, "Naon palajaran anu bisa dicokot tina carita ieu?" atawa "Naon anu kudu dilakukeun ku urang sanggeus maca carita ieu?"
  5. Amanat biasana teu ditulis langsung: Amanat teu salawasna ditulis dina kalimah anu jelas saperti "Amanat tina carita ieu nya éta…". Urang kudu bisa nganyahokeunana tina jalan carita.

Soal 14 (Tata Basa – Struktur Kalimat)

Susun kecap-kecap di handap jadi kalimah anu bener dina ragam basa loma: "buku – meuli – kuring – tilu – keur – kamari – rék"
Jawaban: Kamari kuring rék meuli tilu buku.

Soal 15 (Peribahasa Sunda)

Jelaskeun hartina tina paribahasa "Kacang téh poho kana kulitna"! Sarta gunakeun dina hiji kalimah!
Jawaban:
Hartina paribahasa "Kacang téh poho kana kulitna" nya éta jalma anu poho ka asal-usulna atawa ka jalma anu ngabantu manéhna waktu dina kaayaan susah, sanggeus manéhna meunang kamulyaan atawa kasuksésan.

Conto kalimah:
"Ari geus jadi jelema mah, ulah poho kana asal-usul. Ulah nepi ka kacang poho kana kulitna, da hirup téh teu meunang sorangan."

Penutup

Demikianlah contoh soal dan pembahasan Bahasa Sunda kelas 10 semester 1 yang dapat menjadi referensi bagi para siswa. Memahami materi ini secara mendalam akan membantu siswa tidak hanya dalam menghadapi ujian, tetapi juga dalam menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa dan budaya Sunda. Teruslah berlatih dan menggali kekayaan Bahasa Sunda agar tetap lestari. Selamat belajar!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Menguasai Tema 3: Makanan Sehat untuk Generasi Emas Indonesia Melalui Latihan Soal Tematik Kelas 5

Menguasai Tema 3: Makanan Sehat untuk Generasi Emas Indonesia Melalui Latihan Soal Tematik Kelas 5Menguasai Tema 3: Makanan Sehat untuk Generasi Emas Indonesia Melalui Latihan Soal Tematik Kelas 5

Pendidikan merupakan kunci utama dalam membentuk generasi muda yang cerdas, sehat, dan berdaya saing. Di jenjang Sekolah Dasar, kurikulum tematik hadir sebagai pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam